Ciputra (CTRA) Raih Marketing Sales Rp7,6 Triliun hingga Kuartal III/2025
Bisnis.com, JAKARTA — PT Ciputra Development Tbk. (CTRA) dikabarkan meraih marketing sales senilai Rp7,6 triliun hingga kuartal III/2025. Perolehan ini turun 12% dari periode sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp8,7 triliun.
Berdasarkan laporan Stockbit Sekuritas, emiten properti tersebut membukukan prapenjualan atau marketing sales senilai Rp1,9 triliun pada Juli-September 2025. Capaian itu juga turun sekitar 28% secara tahunan (year on year/YoY).
Dengan demikian, perolehan marketing sales CTRA selama 9 bulan tahun ini mencapai Rp7,6 triliun atau turun 12% secara tahunan. Hal ini pun membuat perseroan merevisi target prapenjualan pada 2025.
“CTRA juga merevisi turun target marketing sales selama 2025 dari Rp11 triliun menjadi Rp10 triliun, sehingga realisasi selama 9 bulan 2025 mencapai 76% dari target 2025 yang baru,” tulis Stockbit, Rabu (15/10/2025).
Adapun, marketing sales CTRA mayoritas berasal dari segmen rumah dan kavling tanah yang menyumbang 88% dari total prapenjualan kuartal III/2025. Disusul segmen ruko sebesar 9%, apartemen 3%, dan perkantoran 1%.
Sementara itu, sekitar 30% dari perolehan marketing sales selama 9 bulan pertama 2025 berasal dari produk yang memenuhi syarat Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP).
Pemerintah diketahui akan memperpanjang insentif PPN DTP 100% hingga akhir 2026. Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi fiskal untuk mendorong sektor perumahan serta memperluas akses terhadap hunian layak.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Ismail Fakhri Suweleh dan Wilastita Muthia Sofi, dalam publikasi riset, menyampaikan bahwa kebijakan tersebut berpotensi menopang daya beli masyarakat terhadap sektor perumahan.
Perkiraan itu muncul setelah insentif perumahan terbukti memberikan dampak positif terhadap kinerja marketing sales. Pada 2023, PPN DTP hanya menyumbang 5% terhadap kinerja prapenjualan.
Namun demikian, kontribusinya kemudian meningkat ke 28% sepanjang tahun lalu dan kembali naik menjadi 31% hingga paruh pertama 2025.
“Kami menilai kebijakan ini tetap akan menopang pertumbuhan kinerja prapenjualan tahun depan,” ujar keduanya dalam riset akhir September 2025.
—
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
link
