April 27, 2026

Corporate Nex Hub

Bringing business progress

Summarecon (SMRA) Kantongi 80% Marketing Sales, Optimistis Kejar Target 2025

Summarecon (SMRA) Kantongi 80% Marketing Sales, Optimistis Kejar Target 2025

Bisnis.com, JAKARTA — PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA) mencatat nilai marketing sales senilai Rp4 triliun atau 80% dari target akhir tahun mencapai Rp5 triliun hingga Oktober 2025.

President Director SMRA Adrianto P. Adhi Perseroan memaparkan perseroan membukukan pertumbuhan penjualan atau marketing sales sebesar 26% secara tahunan (year-on-year) dibandingkan dengan periode sama tahun lalu.

Capaian ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa pasar properti, khususnya segmen menengah ke atas, tetap solid di tengah isu perlambatan daya beli.

“Walaupun banyak yang sedang prihatin dengan isu daya beli, kami bersyukur karena fokus kami di segmen menengah ke atas memberikan resiliensi. Menjadikan kita bisa mencapai Rp4 triliun hingga Oktober 2025,” ujarnya, Kamis (27/11/2025).

Dengan dua bulan tersisa hingga akhir tahun, SMRA masih optimistis untuk mencapai target penjualan 2025.

“Jadi masih ada November, Desember, kami yakin tercapai,” imbuhnya.

SMRA juga menaruh optimisme besar terhadap kinerja 2026 didorong oleh kebijakan terbaru pemerintah terkait insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) yang kini diperpanjang hingga 2027.

Sebelumnya, insentif PPN DTP selalu diberikan secara periodik enam bulanan, sehingga membuat pengembang sulit menyusun rencana jangka panjang.

Adrianto menyebut dengan kepastian hingga 2027, pengembang bisa menyusun pipeline proyek secara strategis, mulai dari perencanaan, peluncuran produk, hingga penyelesaian konstruksi yang menjadi syarat utama PPN DTP.

Dia menekankan bahwa insentif ini 100% menguntungkan konsumen.

“Konsumen langsung dapat diskon 11%. Tapi dari sisi industri, insentif ini akan membuat pengembang membangun rumah secara masif. Ketika konstruksi berjalan, 180 bisnis turunan ikut bergerak. Jadi kontribusinya besar bagi ekonomi nasional,” jelasnya.

Dalam portofolio bisnis, SMRA membagi lini bisnisnya menjadi property development yang berkontribusi sekitar 70% sedangkan recurring Income meliputi mall dan hotel mencapai sekitar 30%.

Adrianto menyebut pengembangan township tetap menjadi fokus utama perseroan untuk jangka panjang. Dengan demikian pihaknya menegaskan belum berencana masuk ke sektor properti baru seperti industrial estate atau logistik.

Adapun memasuki usia 50 tahun, SMRA juga merefleksikan perjalanan panjang menghadapi berbagai tantangan. Dua periode yang dinilai paling berat bagi perusahaan adalah krisis moneter 1998 dan pandemi Covid-19.

Dalam kedua situasi tersebut, perseroan memegang teguh prinsip kebersamaan bahwa seluruh karyawan berada “dalam satu kapal” dengan manajemen.

“PHK adalah pilihan kesekian ratus. Kalau ada yang harus dikorbankan, dilakukan bersama-sama. Begitu juga ketika kita pulih, kita bangkit bersama,” tekannya.


______

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.